Rabu, 30 Desember 2009

Batik????

SEKILAS BATIK TULIS

Apakah batik itu?

Pada dasarnya batik berasal dari istilah bahasa jawa "niba" yang artinya lilin/malam (cairan untuk membuat pola) dan "nitik" yang artinya kurang lebih menulis/ menggambar/ mewarnai pola. Jadi yang disebut batik sebenarnya adalah proses pembuatan menggambar/ mewarnai dengan menggunakan cairan lilin dengan cara ditulis/ digambar (dengan menggunakan canting).

Jadi sebetulnya batik itu pada dasarnya bukan nama desain corak ya?

Ya, tapi nama proses pembuatannya. Walaupun aktivitas membatik sulit diketahui kapan mulainya di Indonesia. Dan kelamaan hal itu bergeser menjadi suatu istilah corak. Seperti yang kita alami sekarang. Makanya jika produk kami ada yang mengatakan "aah...ini sih bukan batik" ya sah-sah saja, tapi perlu dilihat lagi konteks asal kata batik itu seperti tersebut di atas. Lalu kalau produk kami yang dibuat dengan melewati proses menyanting dan segala macam bukan batik, jadi namanya apa dong...

Ada berapa proses pembuatan batik?

Berdasarkan proses pembuatan, maka batik sebagai suatu istilah corak terbagi atas :

  • batik tulis; proses pengerjaan detail yaitu membuat desain, memindahkan desain ke kain, menyanting, mewarnai, melorot, baru terakhir menjahitnya.
  • batik cap; dikerjakan manual menggunakan alat cap dengan design tertentu.
  • batik sablon/ printing; disablon atau di cetak.

Bagaimana cara membedakan batik tulis dan printing?

Keunggulan batik yang asli dengan batik sablon tentunya sangat jauh berbeda. Jika batik asli permukaan kain dibolak balik kualitas warnanya sama karena teknik pewarnaannya dengan pencelupan. Sedangkan batik sablon permukaan kain bolak-baliknya tidak sama terkesan yang satu bergambar sedangkan baliknya polos atau hanya samar. Karena teknik batik sablon pewarnaannya dengan cara menorehkan obat pewarna atau tinta dipermukaan kain saja tidak dicelup. Inilah yang menjadikan batik sablon biasanya cepat luntur karena warna hanya menempel dipermukaan saja tidak meresap keseluruh sel-sel kain.

Karena proses pembuatan dan kualitas hasil itulah mengapa harga batik tulis juga menjadi lebih mahal...

Batik Klasik nan menawan

Batik dari Titik Menjadi Abadi

JAKARTA – Siapa yang tak kenal batik. Hampir semua orang mengenalnya. Kain ini memang populer di kalangan tertentu, dijadikan benda koleksi, dipuja, dan disimpan bak barang antik. Tak mengherankan untuk mendapatkannya, kolektor rela mengeluarkan dana tak terbatas hanya untuk selembar batik. ” Bukan nilai uangnya yang menjadi ukuran, tapi kepuasan jika berhasil memiliki,” ujar Thomas Sigar, kolektor batik yang juga seorang perancang busana.

SH/Gatot Irawan
Jenis batik Pekalongan berwarna cerah dan coraknya besar. Biasa dipakai sebagai pasangan untuk kebaya encin.

Kenapa kain itu disukai dan dijadikan koleksi? Menurut beberapa kolektor karena batik adalah barang seni. Batik ibarat sebuah lukisan, pembuatannya makan waktu, tidak pabrikan tapi satu persatu. Ini dianggap bernilai, terutama jenis batik kuno yang motifnya klasik. Batik klasik memiliki pola dasar tertentu dengan berbagai macam variasi motif flora dan fauna.
Dulu sempat berkembang polemik soal arti kata batik berasal dari mana. Sampai sekarang pun mereka belum sepakat soal apa arti sebenarnya kata batik itu. Ada yang bilang bahwa sebutan batik berasal dari kata tik yang terdapat dalam kata titik. Titik berarti juga tetes. Memang dalam pembuatan kain batik dilakukan penetesan lilin di atas kain putih.
Ada juga yang mencari asal kata batik dalam sumber tertulis kuno. Oleh mereka yang menelusuri dari data kuno itu dihubungkan dengan kata tulis atau lukis. Pendek kata, asal mula batik lalu dikaitkan pula dengan seni lukis dan gambar pada umumnya. Setuju atau tidak, batik tak terpengaruh. Kain khas ini sudah hadir selama berabad-abad.

Bisa Punah
Pada awalnya batik adalah pakaian raja-raja di Jawa di masa silam. Kemudian berkembang menjadi pakaian sehari-hari orang Jawa. Walau batik identik dengan pakaian adat Jawa, namun kini sudah menjadi pakaian nasional, bahkan cukup dikenal di mancanegara. Kepopuleran batik seakan pisau bermata dua. Di satu sisi menjadikannya komoditas yang bernilai, di sisi lainnya batik kuno bakal punah karena dibeli oleh orang asing.untuk koleksi.
” Sebenarnya itu ketakutan yang nggak beralasan,” ujar Thomas. Batik kuno memang harganya mahal. Ada yang jutaan rupiah sampai ratusan juta rupiah. Orang-orang asing itu, lanjutnya, punya apresiasi yang baik terhadap batik dan punya uang. Mereka tak hanya sekadar mengoleksi tapi juga belajar tentang batik. Berbeda dengan orang kita yang sekadar koleksi dan cenderung ikut-ikutan. Apa itu batik dan apa makna di dalamnya, kurang dipahami.
Menurut Thomas, memang ada banyak juga warga Indonesia yang sangat mengerti batik. Mereka berusaha menyelamatkan dan melestarikan lewat perkumpulan atau upaya pribadi. Mereka ini saling bertukar informasi dengan berbagai kolektor, termasuk kolektor asing. ” Jadi saya nggak setuju kalau batik kuno bakal hilang. Mereka menyimpannya teliti dan sangat baik,” katanya.

Motif Langka
Thomas mengaku suka batik sejak lama. Sebagai perancang busana, dia mau tak mau akhirnya bersentuhan dengan kain itu. Koleksinya adalah batik-batik lawas tapi pilihan. Jumlahnya ratusan buah. Dia tak mau bicara soal nilai koleksinya, tapi dijamin semuanya berkualitas.
Dari sekian banyak koleksinya, ada batik yang amat disukainya, yakni batik Van Zuylen. Thomas memiliki tiga batik buatan orang Indo Belanda itu. Dalam perkembangan perbatikan di Tanah Air, ada fase penjajahan Belanda. Dalam fase ini, batik lokal dipengaruhi oleh selera Eropa. Makanya dalam motif-motif batik yang ada dalam masa itu terdapat buket, kartu remi, meriam dan sebagainya yang berbau-bau Eropa.
Koleksi Thomas lainnya adalah batik Cirebon yang bermotif mega mendung. Bagi penggemar batik, rasanya tak mungkin tak mengoleksi jenis batik pesisiran itu. Tapi yang ini, sambungnya, unik. Dasar kainnya hitam dengan motif mega mendung merah. Belum pernah Thomas melihat dasar kain batik Cirebonan berwarna hitam. Koleksi ini didapat seorang ibu yang dulu pernah bekerja pada Fatmawati Soekarno, presiden pertama RI.
Untuk menghadirkan motif klasik yang langka, ada upaya dari penggemar batik Mereka membuat batik baru dengan motif-motif lama. Ini salah satu pelestarian motif sehingga tidak hilang. Tetapi dari segi mutu, berbeda karena proses yang dilakukan pada zaman dulu berbeda dengan masa kini. Sehingga bagi kolektor fanatik, jenis batik replika ini kurang digemari. Tetapi bagi pecinta batik lainnya, ketimbang tidak dapat yang asli yang replika pun boleh-boleh saja.

SH/Gatot Irawan
Etty Tejalaksana, koleksi batiknya barulah 150 buah

Sulit Membedakan
Membedakan yang asli dan replika bagi penggemar pemula, memang agak susah. Apalagi jika ia tak pernah melihat sebelumnya di literatur. Tapi bagi yang ahli, mudah membedakannya, jika memegangnya. Terutama dilihat dari tekstur kain dan tampilan warna. ” Yang replika biasanya lebih bagus dari aslinya,” sambung Thomas.
Tapi bukan pula yang bagus itu selalu replika. Sebab banyak batik Belanda, begitu julukannya, disimpan secara apik oleh pemiliknya. Sehingga sampai kini pun warnanya tidak berubah, kainnya mirip kain baru. Mungkin karena sama sekali tidak pernah dipakai. Begitu pun jenis batik klasik lainnya yang tetap bagus kondisinya hinga kini. ” Penyimpanan dan perawatan menentukan keawetannya. Sebaiknya jika ingin mengoleksi batik kuno, kita harus rajin tanya. Atau membeli langsung dari pemilik atau pewarisnya,” saran Thomas.
Etty Tejalaksana, penggemar baru, mengakui awalnya dia sering tertipu. Membedakan antara batik yang bagus dan tidak saja, sulit. Makanya sarannya jika seseorang ingin menekuni hobi batik, harus belajar. Ilmu batik tak hanya yang ada di buku-buku. Semakin sering terjun ke lapangan yakni mendatangi pembatik tradisional, berburu ke pelosok, bisa mengasah pengetahuan. Ibarat bayi, semakin sering jatuh maka semakin cepat berdiri.
Ibu tiga anak itu mencontohkan batik Pekalongan yang diperlihatkan pada SH. Secara kasat mata, penampakannya sempurna. Warna-warnanya serasi, motifnya menarik, namun kalau diperhatikan ada warna yang tidak merata. ” Dalam proses pembuatan, mungkin perajin kurang cermat mencelupkanya saat pewarnaan. Jadi batiknya belang-belang tipis. Ini produk gagal, namun ada yang suka karena gradasi warnanya serasi,” tuturnya.
Etty mengaku jumlah koleksinya baru sekitar 150 lembar, terdiri dari kain dan selendang. Maklum dia baru menyukai batik pada 1998 akhir. Ketika itu dia jatuh hati pada batik Hohokay. Dikatakannya, ini batik spesial yang dibuat pada masa penjajahan Jepang. Motifnya banyak dipengaruhi unsur Jepang. Seperti warnya yang condong kebiru-biruan dan kekuning-kuningan.
Dari sinilah dia kemudian mulai mengoleksi satu demi satu. Pikirnya ketimbang kebarat-baratan, lebih baik melestarikan karya leluhur saja.
(SH/gatot irawan /bayu dwi mardana)

Rabu, 02 Desember 2009

Pengakuan dunia

Hari Pengakuan Batik oleh UNESCO

B1

Surken – Menanggapi ditetapkannya batik sebagai warisan budaya dunia, penjual batik di Suryakencana, Vanny menyatakan kebanggaannya karena batik mendapat pengakuan Badan PBB yang membidang Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan (UNESCO). UNESCO pada 2 Oktober 2009 mengukuhkan batik sebagai warisan budaya dunia.
“Pengakuan UNESCO tersebut tentu saja sangat diperlukan agar batik tidak lagi diributkan miliknya siapa. Namun, jangan hanya sekarang saja batik ramai-ramai dipakai dan dicari. Pelestarian harus wajib kita lakukan,” papar Vanny yang juga mengelola toko Rimmo di jalan Suryekencana bersama suaminya.
Selain itu, dengan adanya pengakuan batik oleh UNSECO ini, ia juga mendapatkan keuntungan karena penjualan batik di toko pakaiannya meningkat lebih dari 50 persen. Kebanyakan mereka yang mencari batik adalah para wanita karir dan ibu-ibu yang membeli batik untuk dikenakan anaknya di sekolah khusus kemarin. “Kemarin banyak sekali yang membeli hingga beberapa model batik yang kami jual kehabisan model,” ujar ibu dua anak ini kepada Jurnal Bogor, kemarin.
Tak heran, masyarakat Bogor umumnya dan warga Surken pada khususnya ikut memeriahkan pengakuan UNESCO ini dengan memakai batik bersama-sama. Terlihat sejak pagi kemarin, warga yang lalu lalang di kawasan Suryakencana banyak yang memakainya. Mulai dari ibu-ibu, bapak-bapak, anak sekolah, mahasiswa, hingga anak kecil pun memakainya. Ketika ditanya, beberapa dari mereka yang mengenakan batik mengetahui kemarin adalah hari pengakuan batik oleh UNESCO.
Meski demikian, kata Vanny dan warga yang sedang memakai batik ini, setiap warga Indonesia harus meningkatkan rasa memiliki dan menghargai setiap produk Indonesia. Rasa itu harus dimunculkan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya menghargai setiap lembar kertas uang Indonesia. “Kita lihat saja contoh yang mudah. Jarang sekali ada yang menghargai uangnya. Uang kertas banyak dicorat-coret dan digambari,” paparnya.
Jika itu dilakukan, tambah Vanny, mulai sekarang tidak ada lagi yang akan kebakaran jenggot karena ketakutan budayanya diambil. Malah sebaliknya, rakyat Indonesia akan mawas diri karena belajar dari pengalaman sebelumnya serta lebih meningkatkan kecintaan mereka dengan kampus. “Kita ribut kalau sudah ada gembar-gembor pengakuan salah satu bdaya kita oleh negara lain kan?,” tandasnya.

macam motif batik


Motif batik
Motif batik Indonesia
menjadi perbincangan hangat beberapa waktu lalu, pasalnya negara tetangga mengklaim batik nusantara. motif batik benar2 diakui dunia setelah PBB mengesahkan batik sebagai warisan asli bangsa indonesia. klaim pihak tertentu tidak terlepas dari ketidak tahuan anak bangsa terhadap warisan luhur budanyanya. So Let's know motif batik Indonesia
Motif batik jogja
Gambar motif batik yogyakarta atau yogya sebagaian bisa anda lihat di blog motif batik
MOTIF BATIK CUWIRI [MOTIF BATIK Tulis]
Zat Pewarna: Soga Alam
Digunakan : Sebagai “Semek’an” dan Kemben. Dipakai saat upacara “mitoni”
Unsur Motif : Meru, Gurda
Makna Filosofi : Cuwiri artinya kecil-kecil, Diharapkan pemakainya terlihat pantas dan dihormati
MOTIF BATIK SIDO MUKTI [MOTIF BATIK Tulis]
Zat Pewarna: Soga Alam
Digunakan : Sebagai kain dalam upacara perkawinan
Unsur Motif : Gurda
Makna Filosofi : Diharapkan selalu dalam kecukupan dan kebahagiaan.

MOTIF BATIK KAWUNG [MOTIF BATIK Tulis]
Zat Pewarna: Naphtol
Digunakan : Sebagai Kain Panjang
Unsur Motif : Geometris
Makna Filosofi : Biasa dipakai raja dan keluarganya sebagai lambang keperkasaan dan keadilan

MOTIF BATIK PAMILUTO [MOTIF BATIK Tulis]
Zat Pewarna: Soga Alam
Digunakan : Sebagai kain panjang saat pertunangan
Unsur Motif : Parang, Ceplok, Truntum dan lainnya
Makna Filosofi : Pamiluto berasal dari kata “pulut”, berarti perekat, dalam bahasa Jawa bisa artinya kepilut [tertarik].

MOTIF BATIK PARANG KUSUMO {MOTIF BATIK Tulis]
Zat Pewarna: Naphtol
Digunakan : Sebagai kain saat tukar cincin
Unsur Motif : Parang, Mlinjon
Ciri Khas : Kerokan
Makna Filosofi : Kusumo artinya bunga yang mekar, diharapkan pemakainya terlihat indah

MOTIF BATIK CEPLOK KASATRIAN [MOTIF BATIK Tulis]
Zat Pewarna: Soga Alam
Digunakan : Sebagai kain saat kirab pengantin
Unsur Motif : Parang, Gurda, Meru
Ciri Khas : Kerokan
Makna Filosofi : Dipakai golongan menengah kebawah, agar terlihat gagah

MOTIF BATIK NITIK KARAWITAN [MOTIF BATIK Tulis]
Zat Pewarna: Soga Alam
Digunakan : Sebagai kain panjang
Ciri Khas : Kerokan
Unsur Motif : Ceplok
Makna Filosofi : Pemakainya orang yang bijaksana

MOTIF BATIK TRUNTUM [MOTIF BATIK Tulis]
Zat Pewarna: Soga Alam
Digunakan : Dipakai saat pernikahan
Ciri Khas : Kerokan
Makna Filosofi : Truntum artinya menuntun, diharapkan orang tua bisa menuntun calon pengantin.

MOTIF BATIK CIPTONING [MOTIF BATIK Tulis]
Zat Pewarna: Soga Alam
Digunakan : Sebagai kain panjang
Unsur Motif : Parang, Wayang
Ciri Khas : Kerokan Makna Filosofi : Diharapkan pemakainya menjadi orang bijak, mampu memberi petunjuk jalan yang benar

MOTIF BATIK TAMBAL [MOTIF BATIK Tulis]
Zat Pewarna: Soga Alam
Digunakan : Sebagai Kain Panjang
Unsur Motif : Ceplok, Parang, Meru dll
Ciri Khas : Kerokan
Makna Filosofi : Ada kepercayaan bila orang sakit menggunakan kain ini sebagai selimut, sakitnya cepat sembuh, karena tambal artinya menambah semangat baru

MOTIF BATIK SLOBOG [MOTIF BATIK Tulis]
Zat Pewarna: Naphtol
Digunakan : Sebagai kain panjang
Unsur Motif : Ceplok
Ciri Khas : Kerokan
Makna Filosofi : Slobog bisa juga “lobok” atau longgar, kain ini biasa dipakai untuk melayat agar yang meninggal tidak mengalami kesulitan menghadap yang kuasa

MOTIF BATIK PARANG RUSAK BARONG [MOTIF BATIK Tulis]
Zat Pewarna: Soga Alam
Digunakan : Sebagai kain panjang
Unsur Motif : Parang, Mlinjon
Ciri Khas : Kerokan
Makna Filosofi : Parang menggambarkan senjata, kekuasaan.
Ksatria yang menggunakan MOTIF BATIK ini bisa berlipat kekuatannya.

MOTIF BATIK UDAN LIRIS
Zat Pewarna: Soga Alam
Digunakan : Sebagai kain panjang
Unsur Motif : Kombinasi Geometris dan Suluran
Ciri Khas : Kerokan Makna Filosofi : Artinya udan gerimis, lambang kesuburan
Ada perbedaan antara corak motif batik solo , motif bati pekalongan dan jogja terutama pada pola. batik jogja bisanya mempunyai corak dengan dasar putih sedangkan motif batik solo biasanya tidak mempunyai dasar warna putih dan motif batik pekalongan lebih colorfull.